RADIO TENGAH MALAM : SIARAN YANG TIDAK PERNAH BERHENTI

Di sebuah kota kecil SESETOTO LOGIN yang sudah mulai jarang dikunjungi orang luar, terdapat sebuah stasiun radio tua bernama Radio Angkasa 7. Stasiun itu dulu sangat populer, tetapi sejak 15 tahun terakhir hampir tidak pernah mengudara lagi. Bangunannya terletak di ujung jalan, berdampingan dengan hutan pinus yang gelap dan sepi.

Warga sekitar sering mengatakan bahwa radio itu masih hidup, meskipun tidak ada kru yang bekerja di dalamnya. Beberapa orang yang lewat pada malam hari mengaku mendengar suara siaran yang samar samar dari dalam gedung, padahal semua peralatan sudah lama tidak digunakan.

Namun tidak ada yang berani memeriksanya.

Suatu hari, seorang sesetoto mahasiswa jurusan komunikasi bernama Faris datang ke kota itu untuk meneliti sejarah media lokal. Ketika mendengar tentang Radio Angkasa 7, ia langsung tertarik. Baginya, cerita tentang radio yang masih bersuara tanpa operator terdengar seperti mitos yang menarik untuk dibuktikan.

Malam itu, sekitar pukul sebelas, Faris memutuskan untuk masuk ke dalam gedung radio tersebut.

Pintu depan tidak terkunci.

Di dalamnya, suasana sangat sunyi. Debu menutupi meja, kursi, dan peralatan siaran lama. Lampu lampu di langit langit berkedip pelan, seolah masih ada aliran listrik yang tersisa.

Faris berjalan ke ruang siaran utama.

Di sana terdapat mikrofon lama dan panel kontrol yang sudah berkarat. Anehnya, salah satu lampu indikator di alat pemancar masih menyala merah.

Ia mengerutkan kening.

Masih ada listrik? gumamnya.

Ia mendekati meja siaran dan menyalakan rekaman di ponselnya.

Tiba tiba, dari speaker tua di sudut ruangan, terdengar suara statis.

Krrrshhh… krrrshhh…

Lalu suara SESETOTO MASUK itu berubah menjadi musik lama yang tidak ia kenali.

Setelah itu, terdengar suara penyiar wanita.

Selamat malam, pendengar… Anda masih bersama kami di Radio Angkasa 7…

Faris langsung terdiam.

Suara itu sangat jernih, seolah siaran sedang berlangsung secara langsung.

Padahal ruangan itu kosong.

Ia melihat jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 11:11 malam.

Siaran terus berjalan.

Untuk Anda yang masih terjaga… jangan menoleh ke belakang.

Faris menelan ludah.

Ia merasa ada sesuatu di ruangan itu.

Namun ia tidak berani menoleh.

Suara penyiar SESETOTO LINK itu kemudian berubah pelan menjadi lebih lambat.

Apakah kamu masih di sini, Faris?

Jantungnya langsung berhenti sejenak.

Ia tidak pernah menyebutkan namanya.

Tiba tiba lampu ruangan padam.

Gelap total.

Hanya suara radio yang tetap menyala.

Faris… kamu seharusnya tidak masuk ke sini.

Suara langkah kaki terdengar di belakangnya.

Tok… tok… tok…

Pelan.

Semakin dekat.

Faris ingin berlari, tetapi tubuhnya terasa kaku.

Radio itu terus berbicara.

Kami sudah menunggu penyiar baru…

Lampu menyala kembali sesaat.

Di kaca ruang siaran, Faris melihat pantulannya sendiri masih berdiri.

Namun di belakang pantulan itu, ada sosok lain berdiri di dekat mikrofon.

Seorang wanita tanpa wajah yang sedang tersenyum.

Dan di speaker, suara siaran kembali terdengar jelas

Selamat datang penyiar baru… siaran tidak akan pernah berhenti lagi.

Keesokan paginya, gedung Radio Angkasa 7 kembali terlihat kosong.

Tidak ada tanda seseorang pernah masuk.

Namun jika malam tiba, beberapa orang masih mengaku mendengar siaran radio lama yang sama, memanggil nama mereka satu per satu dari balik statis… seolah sedang mencari penyiar berikutnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *